RSS Feed

Sejarah ADHD/Hyperactive

 

ADHD

  • Sir Alexander Crichton menggambarkan “kegelisahan mental” dalam buku An Inquiry Into The Nature dan Asal Mental penyakit jiwa yang ditulis pada tahun 1798. [191] [192] Terminologi yang digunakan untuk menggambarkan gejala ADHD telah mengalami banyak perubahan soal sejarah, termasuk: ” kerusakan otak minimal “,” disfungsi otak minimal “(atau gangguan), “belajar / perilaku cacat “dan” hiperaktif “. Dalam DSM-II (1968) itu adalah “Reaksi Hyperkinetic Childhood”. Dalam DSM-III “ADD (Attention-Deficit Disorder) dengan atau tanpa hiperaktif” diperkenalkan. Pada tahun 1987 ini berubah menjadi ADHD dalam DSM-III-R dan edisi berikutnya. Penggunaan ubat-ubat perangsang untuk mengubati ADHD pertama kali dijelaskan pada 1937.
  • Masyarakat dan budaya
    Media telah melaporkan pada banyak isu-isu yang berkaitan dengan ADHD. Pada tahun 2001 PBS ‘s Frontline menayangkan sebuah program selama satu jam tentang efek diagnosis dan pengubatan ADHD pada anak di bawah umur, yang berjudul “mengubati anak-anak.” Program seleksi termasuk wawancara dengan perwakilan dari berbagai sudut pandangan. Dalam satu segmen, berjudul Backlash, pensiunan neurolog Fred Baughman dan Petrus Breggin PBS yang digambarkan sebagai “kritikus vokal yang bersikeras [ADHD adalah] sebuah penipuan yang dilakukan oleh psikiatri dan industri farmasi pada keluarga sabar untuk memahami perilaku anak-anak mereka” diwawancarai pada legitimasi dari gangguan. Russel Barkley dan Xavier Castellanos, maka ADHD kepala penelitian di National Institute of Mental Health (NIMH), membela kelangsungan hidup dari gangguan. Dalam wawancara dengan Castellanos, ia menyatakan bahwa hanya sedikit yang dipahami secara ilmiah. Lawrence Diller diwawancarai pada ADHD bisnis bersama dengan perwakilan dari Shire Plc.
  • ADHD dan diagnosis dan pengubatan telah dianggap kontroversi sejak tahun 1970-an. Kontroversi telah melibatkan doktor, guru, pembuat kebijakan, orang tua dan media. Pendapat mengenai berkisar ADHD tidak percaya ADHD terdapat pada semua melalui genetik dan fisiologi .
  • Sejak dua puluh tahun terakhir Gangguan Pemusatan Perhatian ini sering disebut sebagai ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorders. Gangguan ini ditandai dengan adanya ketidakmampuan anak untuk memusatkan perhatiannya pada sesuatu yang dihadapi, sehingga rentang perhatiannya sangat singkat waktunya dibandingkan anak lain yang seusia, Biasanya disertai dengan gejala hiperaktif dan tingkah laku yang impulsif. Kelainan ini dapat mengganggu perkembangan anak dalam hal kognitif, perilaku, sosialisasi maupun komunikasi.
  • Gangguan hiperaktif merupakan salah satu kelainan yang sering dijumpai pada gangguan perilaku pada anak. Dalam tahun terakhir ini gangguan hiperaktif menjadi masalah yang menjadi sorotan dan menjadi perhatian utama di kalangan medis ataupun di masyarakat umum..Angka kejadian kelainan ini adalah sekitar 3 – 10%, di Ameriksa serikat sekitar 3-7% sedangkan di negara Jerman, Kanada dan Selandia Baru sekitar 5-10%. Diagnosis and Statistic Manual (DSM IV) menyebutkan prevalensi kejadian ADHD pada anak usia sekolah berkisar antara 3 hingga 5 persen. Di indonesia angka kejadiannya masih belum angka yang pasti, meskipujh tampaknya kelainan ini tampak cukup banyak terjadi. Terkadang seorang anak hanya dianggap ‘nakal’ atau ‘bandel’ dan ‘bodoh’, sehingga seringkali tidak ditangani secara benar, seperti dengan kekerasan yang dilakukan oleh orang tua dan guru akibat dari kurangnya pengertian dan pemahaman tentang ADHD. Terdapat kecenderungan lebih sering pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Secara epidemiologis rasio kejadian dengan perbandingan 4 : 1. Namun tampaknya semakin lama tampaknya kejadiannya semakin meningkat saja. Sering dijumpai pada anak usia pra sekolah dan usia sekolah, terdapat kecenderungan keluhan ini akan berkurang setelah usia Sekolah Dasar. Meskipun tak jarang beberapa manifestasi klinis tersebut dijumpai pada remaja atau orang dewasa. ADHD adalah gangguan perkembangan yang mempunyai onset gejala sebelum usia 7 tahun. Setelah usia anak, akan menetap saat remaja atau dewasa. Diperkirakan penderita ADHD akan menetap sekitar 15-20% saat dewasa. Sekitar 65% akan mengalami gejala sisa saat usia dewasa atau kadang secara perlahan menghilang. Angka kejadian ADHD saat usia dewasa sekitar 2-7%. Predisposisi kelainan ini adalah 25 persen pada keluarga dengan orang tua yang membakat
  • Deteksi dini gangguan ini sangat penting dilakukan untuk meminimalkan gejala dan akibat yang ditimbulkannya dikemudian
    hari. Hal ini harus melibatkan beberapa lapisan masyarakat. Baik dikalangan medis maupun nonmedis. Dokter umum, dokter spesialis anak dan klinisi lainnya yang berkaitan dengan kesehatn anak harus bisa mendeteksi sejak dini faktor resiko dan gejala yang terjadi. Manifestasi klinis yang terjadi dapat timbul pada usia dini namun gejalanya akan tampak nyata pada saat mulai sekolah melakukan anamnesa terhadap orang tua dan guru, guna mengevaluasi perkembangan dan mengarahkan pola pendidikan dan pengasuhan anak dengan hiperaktif bila dapat dilakukan deteksi dini dan penatalaksanaan pada tahap awal.

From Wikipedia, the free encyclopedia Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 4 other followers

  • %d bloggers like this: